Aku tidak tahu harus bangga atau malu. Menaklukkan tanjakan termaut yang dari malang ke batu dan satu2nya korbanku orang tua dengan umur 64 tahun (hampir 2.5x umurku) memakai mountain bike.

Rencana awal, naik ke pujon lalu turun ke pertigaan pendem untuk naik lagi ke batu tetapi melewati tanjakan yang biasa kulewati.

Tanjakan ke empat mencatat waktu 19 menit… Sigh*… Kurasa harus bersabar untuk menembus waktu dibawah 15 menit.

Lalu aku turun ke pertigaan pendem dan disanalah bertemu dengan Bapak A. Having chit-chat, dan tujuan kita sama2 ke batu. Sampai di persimpangan antara melewati tanjakan biasanya, atau menuju neraka… Bapak A mengatakan dia sudah biasa lewat sana lalu mengajakku lewat sana juga.

Ego-meterku naik ke titik tertingi dan tanpa pikir panjang aku mengiyakan. Berpikir sebelum bertindak memang peribahasa yang sangat bijaksana.

Tanpa berlama-lama aku menyalip bapak A di awal dan kutinggalkan dia sangat jauh dibelakangku… I feel sorry for him…dimana 10 menit kemudian, i feel really sorry to myself…my legs and my heart especially…

Ciri tanjakannya tidak terlalu curam di awal, ditengah biasa-biasa saja, 500 meter terakhir sangat brutal.

Setelah meninggalkan bapak A di awal-awal, aku berpikir mungkin saya berkesempatan diterima di tim Pro, kemudian ngedrop chris froome* dan memenangi Mont Ventoux** di perancis. Sampai kulihat tanjakan 500 meter terakhir, dan waktu akan memindah gear… Ternyata aku sudah berada di gear teringan. I am doomed.

Sungguh, menonton tour de france dari TV dan melihat mereka menderita di tanjakan jauh lebih enak.

Speedku drop, kakiku serasa dilindas truk, dan jantungku dah pingin keluar. Setiap teknik yang kupunya sudah kuaplikasikan, entah itu benar atau salah.

Candence*** 60rpm, pedalling in circle, ignore the pain. Realitanya membuat candence 40 saja sudah bagus. Pedalling in circle? Sepertinya membentuk segitiga. Ignore the pain? What a stupid advice!…yang tersisa hanyalah harga diri yang berkata ” move your ass, you weak, wimpy little creature!”.

Aku pernah berpikir waktu melalui tanjakan ini (dengan mobil tentunya), bahwa hanya pro cyclist yang bisa menaklukkan tanjakan ini. Sekarang setelah menyelesaikannya, kupikir menjadi shopkeeper lebih enak daripada jadi pro cyclist. Cukup mereka yang menderita saja.

Setidaknya dengan menaklukkan tanjakan terberat ke batu, memberikan kepercayaan diri dalam melintasi setiap tanjakan. Dan untuk 2 minggu kedepan aku akan menjadi flatlander….what a holiday.

Bagi yang ingin menderita juga, nama jalannya jalan hasanudin. Ini jalur alternatif untuk menuju ke BNS dari pertigaan Pendem. Bis2 sering lewat jalur ini.

MMD

* tour de france 2013 general classification winner
** salah satu stage pegunungan di perancis
*** putaran pedal per menit